Sekaten adalah salah satu tradisi tertua di Yogyakarta. Upacara ini digelar Keraton Yogyakarta setiap bulan Mulud dalam kalender Jawa untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Asal-Usul Sekaten

Tradisi ini berakar dari masa Kesultanan Demak, ketika gamelan dimainkan untuk menarik perhatian masyarakat agar datang ke masjid dan mendengarkan syiar Islam. Nama Sekaten sering dikaitkan dengan kata syahadatain, yaitu dua kalimat syahadat.

Rangkaian Acara

Rangkaian Sekaten berlangsung selama sekitar satu pekan menjelang 12 Mulud:

  • Miyos Gangsa: dua perangkat gamelan pusaka, Kanjeng Kiai Gunturmadu dan Kanjeng Kiai Nagawilaga, dikeluarkan dari keraton dan ditempatkan di Pagongan Masjid Gedhe Kauman.
  • Gamelan dimainkan: selama beberapa hari, gamelan ditabuh pada waktu-waktu tertentu.
  • Numplak Wajik: prosesi membuat wajik sebagai bagian awal pembuatan gunungan.
  • Kondur Gangsa: gamelan dikembalikan ke dalam keraton.

Puncak: Garebeg Mulud

Sekaten mencapai puncaknya pada Garebeg Mulud. Gunungan berisi hasil bumi diarak dari keraton menuju Masjid Gedhe Kauman, didoakan, lalu dibagikan kepada masyarakat. Banyak warga percaya bagian gunungan membawa berkah.

Bagi wisatawan, Sekaten menjadi kesempatan melihat langsung tradisi keraton yang masih terjaga. Jadwal resmi biasanya diumumkan oleh Keraton Yogyakarta menjelang bulan Mulud.